Apabila berbicara masalah genteng, tentu kita akan terpatri kepada .genteng Kebumen. Industri genteng di Kabupaten Kebumen memiliki sejarah panjang. Sampai saat ini, keberadaan industri masih menjadi sandaran untuk menghidupi ribuan warga.
JAUH sebelum mengenal genteng, sebagian masyarakat di Kabupaten Kebumen telah memiliki keterampilan membuat tembikar. Hal itu didukung jenis tanah di Sokka, Wonosari, Sruweng, dan Klirong yang bagus untuk bahan tembikar.
Sebelum abad ke-20, sudah banyak warga yang membuat gerabah untuk alat-alat rumah tangga seperti tungku, gentong, padasan, blengker, jambangan, kendil, cowek, dan jubek dari tanah lait. Bahkan sampai saat ini, keahlian turun-temurun yang konon hasil interaksi dengan kebudayaan China itu masih bertahan. Warisan keahlian membuat gerabah diteruskan masyarakat Gebangsari Kecamatan Klirong yang terkenal sentra gerabah Kebumen.
Kerajinan genteng muncul sekitar tahun 1920-an. Saat itu, Pemerintah kolonial Belanda melakukan penelitian untuk memetakan daerah-daerah yang memiliki tanah bagus untuk bahan atap bangunan. Saat itu, dibentuklah Balai Keramik di Bandung. Kebumen merupakan salah satu dari sejumlah daerah yang memiliki potensi sentra genteng.
Genteng-genteng tersebut untuk memenuhi pembangunan infrastruktur termasuk untuk dijadikan atap pabrik gula. Bahkan di Kebumen juga terdapat dua pabrik gula, yakni di Prembun yang bekasnya jadi Pos Polisi Prembun dan di Kebumen yang saat ini menjadi RSUD.
Pengenalan genteng sebagai atap juga dilakukan oleh tim kesehatan Belanda. Misi kesehatan dilakukan karena saat itu terjadi wabah pes. Saat itu, banyak tenaga kerja pribumi yang tidak bisa maksimal karena terserang penyakit tersebut. Terungkap, sebagian besar rumah yang saat itu masih beratap rumbia menjadi penyebab penularan pes. Sebab atap sering dijadikan sarang tikus penyebab pes.
Untuk pertama kali, Belanda mendirikan sebuah pabrik genteng di Kebumen persisnya di Pejagoan. Namun saat ini, bekas pabrik sudah tidak bisa dilihat karena sudah menjadi gedung SMP Negeri 1 Pejagoan. Pabrik hancur saat perang kemerdekaan. Industri genteng yang juga mengandalkan sumber daya alam ini, secara eksternal cukup positif karena memunculkan nama Kebumen di pasar genteng nasional khususnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Namun, secara internal ada plus dan minusnya. Plusnya karena hasilnya mampu menghidupi sebagian penduduk, sedangkan minusnya karena penggalian tanah liat yang tanpa aturan akan merusak lingkungan. Lahan yang diambil tanah liatnya sebagian besar merupakanbekas sawah yang dijual pemiliknya seusai panen. Alih fungsi dari lahan sawah menjadi tanah galian itu membuat lahan rusak dan tidak dapat ditanami lagi.
Incoming search terms:
- harga genteng kebumen
- Genteng kebumen
- genteng sokka kebumen
- genteng soka
- harga genteng soka
- Harga genteng sokka kebumen
- genteng sokka
- harga genteng soka kebumen
- pabrik genteng kebumen
- genteng soka kebumen
genteng press, genteng mantili, genteng beton
Related Listing
-
Batik Naradha, The Pride Of Indonesia
Berawal dari keinginan kita semua untuk memiliki produk fashion yang mampu memadukan tren fashion ...
-
Pardino Home Industry, Pembuat Tas Berbahan Vinyl
Usaha Kerajinan TAS ini di rintis oleh .Pardino (34) Sejak 1999, setelah sebelumnya selama 6 tahun ...
-
Batik Aini Indah, Lokasi di Gang Kecil, Tetap Dikenal Ekspatriat
Banyak dari pengusaha yang beranggapan lokasi adalah segalanya. Tetapi dogma itu tidak berlaku ...

miftahuddin, 1 year ago




saya juga membuat genteng kodok/mantili kecil @1000 mantili besar/millenium @1200. morando (sudah rapat tidakperlu aluminium foil) @1800. cat khusus warna/transparan gilap (garansi 20 th) +800. warna+gilap @ 1500. Tambah ongkos kirim dan bongkar. Pesan hanya melalui SMS 085726866999.
PEMBICARA Internet Marketing, 1 year ago




Semoga lebih sukses dan lancar, lebih baik lagi apabila mengikuti Workshop Internet Marketing di Purwokerto.
info lebih lanjut dapat MELIHAT :
http://www.pembicarainternetmarketing.com/workshop-internet-jadikan-internet-sebagai-mesin-pencetak-uang.html
Terima kasih, Simpati : 081 333 841 183